Dalam dalam sistem. Misalkan saja jika si Rani di

Dalam
kamus besar bahasa indonesia Relations yang berarti Hubungan, hubungan adalah
interaksi antara satu dengan yang lainnya dalam bentuk yang berbeda-beda,
dengan cara langsung ataupun tidak langsung seperti halnya dengan kondisi
sosial saat ini banyak ledakan permasalahan yang terjadi adanya hubungan konektivitas
yang semakin meningkat atau semakin melemah antara suatu komponen yang kompleks
sehingga perlu cara untuk menyelesaikan permasalahan tersebut.

Untuk
itu dalam sistem thingking ada macam- macam bentuk untuk mengukur/menganalisis masalah
yang ada di lingkungan kita yaitu :

We Will Write a Custom Essay Specifically
For You For Only $13.90/page!


order now

a.       Co-incidence:
bahwa komponen tersebut ada karena adanya “kecelakaan” atau kebetulan saja, dan
sebenarnya bukan merupakan komponen sesungguhnya dalam sistem. Misalkan saja
jika si Rani di suruh oleh ibunya berbelanja ke pasar tiba-tiba saja Rani
kecelakaan di jalan dan akhirnya si Rani tidak jadi ke pasar karena ada musibah
yang menimpanya, hal di atas merupakan masalah yang datang secara kebetulan dan
tidak di perkirakan sebelumnya.

b.      Correlated/Concurrent:
ketika komponen yang memiliki keterkaitan namun tidak memiliki hubungan kausalitas.
Hubungan yang terjadi berjalan paralel seolah-olah memiliki hubungan sebab
akibat.

Misalnya
kita ingin memakan donat, tentunya kita harus membelinya terlebih dahulu untuk
itu kita harus order setelah donat sampai baru kita makan dan merasakan donat
tersebut.

c.       Causality:
ketika komponen yang dibandingkan memang memiliki korelasi dan memiliki hubungan
sebab akibat antara keduanya.

Misalnya,
Pada saat musim hujan seorang petani bawang memanen bawang akan tetapi bawang
yang di panen basah (rusak) dan akhirnya petani  menjual ke pedagang-pedagang dengan harga
murah dengan tidak ada keuntungan dalam panen bawang tersebut.

Berfikir sistem untuk mengatasi
peningkatan hubungan kompleksitas

Kompleksitas
permasalahan telah mencapai tingkat yang lebih tinggi dari sebelumnya. Hilang sudah
sebuah masa dimana sebuah masalah dengan mudah diuraikan dan disederhanakan menjadi
komponen-komponennya, diperbaiki komponen yang rusak, disusun kembali dan berharap
masalah akan terselesaikan, Saat ini masalah menjadi saling berkaitan, sehingga
ketika diperbaiki komponen yang rusak, belum tentu akan mendapatkan hasil yang
sama sebelum kerusakan yang terjadi.

1.      Hubungan
meningkat karena adanya-adanya  hubungan

Hubungan yang sangat kompleks ini sangat berkaitan
sehingga perlu adanya pemahaman yaitu kompleksitas yang terjadi bukan hanya
karena jumlah hubungan, namun juga ditambah dengan kualitas dari hubungan
tersebut yang berubah seiring dengan waktu yang berjalan(kumpleks dinamis).
Seperti di dunia bisnis pada pemasarannya zaman dulu perusahaan hanya fokus
untuk pengambilan keputusan saja hanya membuat dan memasarkannya lewat majalah,
iklan dan pemasaran di era sekarang melewati semua media masa yang ada di era
sekarang, dan ternyata konsumen itu membeli produk karena timbul karna pemahaman
bahwa pengambilan keputusan pembelian ternyata tergantung pula kepada apa yang
dibeli oleh teman kita. Keterhubungan dengan teman yang semakin mudah terjalin
via media sosial, menciptakan kebutuhan ahli pemasaran untuk lebih mengetahui
dinamika komunikasi virtual dan pengaruhnya kepada pengambilan keputusan untuk membeli
suatu merk.

2.      Hubungan
merubah fokus kepada proses dan stuktur

Pemecahan masalah kita  tidak lagi berfikir berbasis tentang komponen
saja melainkan antar komponen satu dengan yang lainnya hal ini ada 3 tahap
untuk mengubah fokus permasalahan yaitu:

a.       Tahapan
mengubah fokus yang tadinya dari output kejadian kepada proses

Yaitu
mengubah pemikiran kita dengan melihat apa yang ada di belakang layar dari
semua proses yang di jalankan(melihat proses dari awal hingga akhir) sehingga
mengetahui apa yang sedang terjadi, akan tetapi di era sekarng banyak orang
melihat enaknya saja padahal yang menggapai itu adalah orang yang dulunya
susah.

b.      mengubah
fokus proses kepada pola

seiring
dengan fokus kita melihat dan memahami proses (sadar) maka kita bisa mendapatkan
dan memprediksi adanya pola output kejadian seiring dengan berjalannya proses
kejadian tersebut :

–        
masalah saat ini sebenarnya merupakan lanjutan
dari masalah sebelumnya, namun belum terdeteksi permasalahannya apa, sehingga
jika proses tidak berubah maka masalah akan meningkat terus.

–        
Ternyata ketika kita mengubah beberapa
hal didalam proses, output yang dihasilkan juga berubah. Jika perubahan ini
dilakukan dalam suatu rentang tertentu, maka sebuah pola kejadian bisa muncul
ide baru.

–        
Ternyata ketika output berubah, proses
juga akan mengalami perubahan yang mengakibatkan output akan berubah secara
permanen dan bagus untuk di aplikasikan

c.       mengubah
fokus pola ke struktur yang menimbulkan pola dan kejadian tersebut.

Tahap terakhir ini adalah berarti
proses tidak cukup, karena kita perlu mengidentifikasikan masalah  perubahan yang mungkin terjadi kepada proses,
artinya perlu adanya identifikasikan yang baru tentang input yang dibutuhkan,
serta bagaimana semua itu terhubung dengan melalui umpan-balik (feedback).
Karena setiap proses tentu akan membutuhkan input, dan yang akan mengontrol
jalannya input dan proses adalah sebuah mekanisme umpan balik dari output
maupun dari proses.

Dari
tahapan di atas kita perlu memahami tentang adanya proses menyelesaikan masalah
kehidupan, semua berhubungan satu sama lainnya, seperti halnya kita mengagumi
seorang tokoh yang terkenal tentu kemudian dia akan membaca biografi tentang
“pola” berfikir tokoh itu, namun kita ingin melihat struktur yang membuat pola
pikir tokoh itu cerdas dan lain sebagainya.

Hubungan
yang semakin kompleks yang mengakibatkan masalah yang semakin kompleks akan
memotivasi kita untuk mengubah cara pandang dari hanya sekedar output
(kejadian) ke eksplorasi struktur dari sistem permasalahan. Namun yang sering
kita tidak pernah sadari, bahwa dalam struktur masalah merupakan kombinasi
korelasi antara struktur masalah eksternal dengan struktur masalah internal.
Struktur masalah eksternal adalah permasalahan yang kita hadapi, sedangkan
struktur permasalahan internal adalah pola berpikir kita untuk menyikapi
masalah pola eksternal tadi. Bahkan, bisa saja pola berpikir kita sering
menjadi  bagian terbesar dari sulitnya
melakukan pemecahan masalah. Untuk itu kita harus menghargai akan arti penting
pada prosesnya bukan terima jadi saja. J

3.      Dibutuhkan
Pola Berpikir Yang Sesuai Dengan Peningkatan kompleksitas

Kompleksitas
yang semakin meningkat akibat adanya konektivitas, merupakan petunjuk bahwa telah
terjadi pola baru pada permasalahan yang kita hadapi. Pola masalah baru
tersebut memiliki perilaku yang berbeda menghadapi solusi yang kita berikan,
perilaku itu misalnya Ketika permasalahan yang kita hadapi saat ini berasal
dari solusi yang kita terapkan pada masa lalu Ketika solusi yang anda dorong ke
permasalahan menimbulkan reaksi dorong balik dari sistem Ketika solusi berhasil
membuat perilaku sistem membaik untuk sementara namun memburuk lebih parah pada
jangka panjang Ketika solusi malah memperparah kondisi sistem dan menjadi
sumber masalah baru yang lebih parah dari masalah sebelumnya (The cure can be
worse than the disease) Ketika solusi yang mempercepat malah memperlambat
(faster is slower) Pola baru masalah ini tentunya membutuhkan pola baru dalam
berpikir untuk menguraikan dan memecahkan masalah. Sebuah pola baru yang: berbasis
kepada kompleksitas yang ditimbulkan pola konektivitas bukan saja kepada komponennya
(fokus kepada struktur konektivitas yang tidak terlihat) iteratif, karena lebih
sulit untuk menemukan konektivitas dibandingkan komponen, sehingga dibutuhkan
usaha yang berulang-ulang kontekstual, karena masalah bisa saja berubah seiring
dengan waktu dan tempat akibat perubahan pola konektivitas. Pola inilah yang
ingin dibentuk dalam berpikir sistem.

 

Studi kasus tentang kemiskinan

Film
yang berjudul “children of heaven” di ceritakan karena hidup dalam keterbatasan
dana, adik kaka, bayu dan rehan yang tinggal di gubuk 3x3m persegi di jalan
sepakat, kec. Makasar kota makasar, terpaksa harus bergantian dalam memakai
seragam sekolah di kutip dari liputan6.com

Tahapan
yang harus di lakukan

1.      pada
tahap pemerintah

–        
Harus mensejahterakan rakyat kecil di
pinggiran/ perbatasan kota dengan memberikan bantuan berupa bantuan alat
sekolah, sembako dan lain lain.

–        
Bagi anak-anak sekolah tersebut harus di ikutkan program beasiswa daerah.

–        
Memfasilitasi jaminan kesehatan seperti
ASKES, BPJS dan lain­-lain

2.      Pada
tahap Kecamatan,Desa dan RT

–        
Memberikan bantuan setiap bulannya
berupa sembako uang dan lain-lain

–        
Merenovasi rumah tersebut atau mengajak
para warga sekitar berbondong-bondong untuk membantu orang yang kesusahan.

 

Studi kasus tentang kemiskinan

Perkembangan sebuah kota sangat erat
kaitannya dengan jumlah penduduk yang hidup dan tinggal di kota tersebut.
Perkembangan suatu kota juga dipengaruhi oleh adanya urbanisasi yang sudah
terjadi sejak era revolusi industri. Masyarakat banyak yang memutuskan pindah
dari desa ke kota untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Namun arus urbanisasi
seringkali memberikan konsukuensi, salah satunya memicu adanya
kemiskinandan kriminalitas. Menurut Schiller (1979) kemiskinan dalam suatu
kota merupakan ketidaksanggupan untuk mendapatkan barang dan pelayanan yang
memadai untuk memenuhi kebutuhan sosial yang terbatas.

 

Kemiskinan menyebabkan
ketidakmampuan dalam memenuhi standar kebutuhan hidup di kota, keterbatasan
dalam sumberdaya maupun aset , serta keterbatasan akses
untuk mendapatkan pelayanan dasar seperti perumahan, pendidikan,
kesehatan, dan pekerjaan formal. Kemiskinan memicu suatu kelompok atau individu
hidup serba terbatas, sehingga mendorong sebagian dari mereka untuk memenuhi
kebutuhan mereka dengan segala cara. Hal inilah yang memicu terjadinya
kriminalitas (Koran Kaltim).

 

Kriminalitas adalah Segala sesuatu perbuatan
manusia yang melanggar aturan-aturan, norma, bahkan hukum atau sebuah tindak
kejahatan yang membuat resah banyak orang. Kemiskinan diyakini dan diperlakukan
sebagai anteseden atau bahkan determinanperilaku jahat Sebenarnya, yang menjadi
masalah dalam kriminalitas adalah adalah kesenjangan sosial,
bukan kemiskinan. Samarinda, sebagai ibu kota Provinsi yang ada di
Kalimantan Timur, juga masih berkutat dalam permasalahan ekonomi kota seperti
kemiskinan dan kriminalitas.

 

Kemiskinan saat ini menjadi proritas
stakeholder untuk mengurangi tingkat kemiskinan, sedangkan kriminalitas saat
ini masih menjadi permasalahan tersendiri dikota samarinda.

1.   
Apa yang menyebabkan terjadinya fenomena
kemiskinan/kriminalitas diKota Samarinda

2.   
Bagaimana
proses terjadinya kemiskinan/kriminalitas di Kota Samarinda

3.   
Bagaimana cara yang paling
tepat dalam meberikan jalan penyelesaian dari fenomena
kemiskinan/kriminalitas di Kota Samarinda

 

1. Kesimpulan

Dari
pembahasan secara umum kejadian diatas yang telah dipaparkan sebelumnya, maka
bisa kita ambil kesimpulan sebagai berikut:

Kemiskinan
yang muncul pada umumnya dikota samarinda.

disebabkan
oleh beberapa faktor, yaitu rendahnya kualitas sumber daya manusia, tingkat
pendidikan yang rendah, pendapatan yang rendah, dan kesulitan masyarakat dalam
mengaksesfasilitas dan birokrasi milik Pemerintah. Sedangkan kondisi lingkungan
keluarga tidak terlalu berperan menciptakan kemiskinan.

Kriminalitas
yang muncul di dikota samarinda disebabkan oleh kemiskinan, keterdesakan
individu/kelompok dalam memenuhi kebutuhan hidup, serta kondisi lingkungan.

Sampai
saat ini, pemerintah masih saja kekurangan anggaran bantuan APBN ataupun
perubahan yang menonjol dikota samarinda dalam mengatasi kemiskinan dan
kriminalitas

Dampak
kemiskinan dan kriminalitas bagi perekonomian kota samarinda menyebar ke
bebrapa sector, seperti pengangguran, rawan munculnya konflik sosial, tingkat kematian
yang tinggi, serta munculnya permukiman kumuh.

2. Saran

Dalam mengatasi kemiskinan dan kriminalitas di kota
samarinda, perlu adanya peran aktif dari Pemerintah Kota Samarinda serta
masyarakat agar punya komitmen untuk mengentasi kemiskinan dan kriminalitas.
Komitmen ini juga bukan hanya untuk Kota Samarinda, namun juga untuk
tempat-tempat yang menjadi kosentrasi kemiskinan dan kriminalitas di kota
samarinda pada umumnya.